Disclaimer:
Tulisan ini ini tidak bermasuksud menyinggung siapa-siapa. Tulisan ini hanya penyampaian uneg-uneg seorang anak muda biasa yang masih hijau dalam perjalanan dunia ini. Jika ada pihak yang tersinggung, saya minta maaf sebelum dan sesudahnya. Terima kasih.
Gambar disamping di curi dengan diam-diam dari sono.
Sore ini saya baru saja browsing-browsing ke web site detik. Dan disana ada berita yang mengatakan “Orang Indonesia Bantu Australia Juara di Imagine Cup“. Yang tersirat di pikiran saya saat membaca judul berita ini adalah kekaguman akan anak-anak Indonesia. Tapi disisi lain saya berpikir, kok negara lain yang dibantu? Negara sendiri kok ditelantarkan yah?
Pertanyaan itu masih berputar-putar di kepala saya dan saya langsung membaca beritanya. Ternyata orang Indonesia yang dimaksud bernama Dimaz Pramudya dan beliau kuliah di Computer Science & Software Engineering di Swinburne University, Melbourne, Australia. Dan tim SOAK(Smart Operational Agriculture toolKit) yang beliau ikuti menjadi juara 1 pada kategori software design pada ajang kejuaraan Imagine Cup 2008.
Hebat ya? Putra-putri Indonesia memang hebat-hebat *gak termasuk saya*. Contoh lain yang sempat menggemparkan kita adalah profesor termuda Amerika ternyata seorang warga Indonesia *membayangkan menjadi profesor termuda ASIA
*.
Tapi yang sangat disayangkan, kok jadi negara lain ya yang diuntungkan? Sementara negara kita dalam kondisi semrawut saat ini. Coba bayangin, berapa banyak acara debat yang diadakan di televisi. Banyak kan? Namun adakah hasil dari semua itu? Katakanlah hasilnya ada, akan tetapi apakah pelaksanaanya dilakukan secara merata? Perlakuan secara tidak merata malah akan menimbulkan kesenjangan sosial dan malah perpecahan antar daerah akan timbul dan membesar.
Oke, back to laptop.
Nah, saatnya kita memikirkan kenapa putra-putri Indonesia yang berbakat hijrah ke luar negri? Dan mereka malah mengharumkan nama negara yang bukan negara kelahiran mereka? Atau negara nenek moyang mereka? Jika hal seperti itu terus terjadi, maka perkembangan di negara tercinta kita ini akan lamban.
Hhhhhhhh… semoga saja ada pihak yang berwenang yang mengerti dan mengurus uneg-uneg ku ini.
Update!
Mudah2an masuk nominasi….
















mungkin karena di luar sana otak mereka lebih dihargai
mungkin lho…
Iya neh bro pemerintah sibuk ngurusin perutnya sendiri, boro-boro ngurusin anak Indonesia yang berbakat…
maklum mas….pejabat kita sibuk sendiri saling menghujat lawan politik…lum lagi pada sibuk korupsi juga…sebentar lagi pemilu ni, yang namanya negara ga bakal ke urus de, pasti pada ngurusin partainya masing-masing….btw, kapan yah saya bisa jadi professor???kulh aja ga lulus2 ko…hehehe
Mungkin kalo di negara lain.. kepintaran mereka mendapat penghargaan lebih..
Soal apa penghargaan tersebut juga relatif, bisa dalam bentuk materi, pengakuan, dukungan pengembangan dll..
Kalo di Indonesia, bisa memajukan kultur masyarakat pedesaan aja sudah akan sangat membantu.. Kita ndak butuh pengembangan yang muluk-muluk.. Bisa bikin orang ga buang sampah sembarangan aja uda membantu banget.. Bisa buat orang untuk hidup modern dan bersahabat dengan lingkungan juga cukup untuk bikin rakyat Indonesia bisa hidup lebih nyaman..
Apalagi di jaman TV murah kaya sekarang, yang mana murahnya TV berbanding lurus dengan murahnya kualitas tayangan di televisi. Perilaku bangsa ini ya ga jauh dengan apa yang sering masuk ke ruang imajinasi mereka
@eka:
Mungkin juga sih, mungkin di negara kita yang tercinta ini mereka kurang dihargai…
@putra eka:
perut karet kali bro…
@rudyahud:
gak ada rencana buat partai sendiri bro? hehehehehe…. klo mau jadi profesor, ajak saya juga ya… Soalnya da ngebet banget pengen menyandang gelar profesor… hihihihihi
emang banyak kasus kayak gitu..
malah ada 2 MVP indonesia disingapura… jadinya mereka membawa nama singapura..
ya.. karena mereka lebih dihargai diluar sana dibanding di negeri sendiri..
@voyant:
Wowwww….. saya terkesan banget dengan gaya bicara dan komentar bang Voyant. Bang yan, dah bisa tuh ikut-ikutan debat di TV. Lumayan kan masuk TV, masuk TV looooo *niruin gaya mas tukul arwana di acara 4 mata*
@ruben:
misalnya klo tulang Ruben sebagai salah satu orang jenius Indonesia *awas lo klo kupingnya naek*, mau gak kerja di Indonesia?
saiiang sekali.. sungguhhh..
@ratutebu:
yang sayang apanya non?
eniwei, thanx ya udah mampir ke gubug reot ku ini
hiduplah
indonesia
raya
yah kadang di sini begitu.
@ronggo:
indonesia…….. *dengan gaya dirjen*
@monsterikan:
kadang2 enggak juga ya mas? Sorry i just kidding… *kabooorrrr
yah, sbenernya bkan mksudnya ank2 muda indonesia pengen ninggalin Indonsia kaiii bang,
*, meskipun mereka ngebawa nama negara laen, tapi secara ngga langsung, mreka jg ngebawa identitas mreka sebagai ank Indonesia kan??
kita ambil sisi positifnya aja *bijak mode on
so TETEP aja Indonesia kesebut-sebut… Tul ga’??
@aphitoojuddy:
Klo misalnya mereka ngebawa nama lain dan Indonesia disebut2, itu mah cuma keserempet duang…. Maksudnya ketiban untung tak disengaja… Kenapa gak Indonesia aja yang langsung untung besar…? Ye tak ye….
kemungkinan di negara lain masa depannya lebih cerah di banding di sini…
Ahli sofware memang banyak di butuhkan di Aussie , tulang !
@duan:
mungkin juga. klo kamu yang berada diposisi itu, apakah kamu mau ke luar negri?
@ri tool:
kok tulang? dari mana par-taromboannya?
kalo dalam satu kelas ada satu anak gak naik, kita bisa menyalahkan anak tsb.
kalo dalam satu kelas, ada lebih dari 1 anak gak naik kelas, berarti yang salah, gurunya….:)
Prihatin mas, Prihatin…
salut utk tulisannya yg menggugah
salam kenal
@torasham:
benar. itu tanda si guru gak perduli sama anak didiknya…
@mrth4nks:
makasih mas.
salam hangat juga dari saya…