Pengalaman pribadi yang saya rasakan bersama tiga teman saya yang lain yang Kerja Praktek di Nommensen (ito Ivanna dan akkang Grace) dan Kafir(Kakang Firma Sensei) yang Kerja Praktek di Wilmar.
Pengalaman ini bermula ketika kami turun dari bus pariwisata di Bandara Polonia Medan. Ketika baru saja turun dari bus tersebut, terasa banget panas menyengat badan ini. Sebentar saja badanku udah keringatan, mana belum mandi lagi*ihhh bau….*. Di Polonia, kami mahasiswa/i yang KP di Medan menunggu teman-teman yang sebentar lagi mau berangkat ke Jakarta*wuihhhhh…. kebayang gak sih naik pesawat terbang, maklumlah aku orang tak berada..
*. Selama menunggu mereka, kami yang KP di Medan disuruh membuat group tersendiri dan terpisah dari mereka yang akan terbang ke Jakarta*sedih ya disisihkan dari orang-orang berada..*.
Ternyata, jadwal Check-In penerbangan telat, jadinya kami harus menunggu lama agar seluruh teman yang mau ke Jakarta sudah Check-In.
Kira-kira jam tiga sore, kami(aku, Hendro, Lae Ganteng, Kafir, ito Ivanna, akkang Grace) melangkahkan kaki menuju pintu gerbang Bandara Polonia. Dari tempat berkumpul kami tersebut ke gerbang Bandara Polonia kira-kira 500 meter jauhnya. Kami berjalan kaki menuju gerbang tersebut sambil menenteng tas-tas yang berat yang berisi pakaian yang akan kami gunakan selama KP. Ternyata walau cuma 500 meter berjalan, ternyata cape juga loo… soalnya barang-barang yang kami bawa berat sekali dan jumlahnya sangat banyak. Sampai di depan gerbang Bandara Polonia, kami memesan becak untuk menuju makam pahlawan*katanya tempat para bencong*. Kami hanya mengutus Ivanna dan Grace untuk pergi ke simpang tersebut sambil membawakan seluruh tas kami sementara kami menuju simpang tersebut naik angkot nomor 64*klo gak salah*.
Setelah itu kami naik angkot nomor 42 berangkat ke rumah tantenya si Richard Sinabariba untuk mencari tempat kost yang kami pesan sebelumnya. Untuk yang cewek, kami menuju rumah tante Richard namun kata tantenya mereka tidak menerima anak kost. Sedangkan aku dan Kafir menuju rumah oppung si Richard sambil bawa tas yang berat-berat.
Dari hasil perundingan kami dengan oppung Richard, kami tidak jadi nge-kost disitu coz uang kostnya 500 rb perbulan. Mahal banget ya… Dah gitu, sepertinya blon ikut uang makan. Sial deh, dapat dari mana uang sebanyak itu?
Oleh karena itu, kami kembali ke rumah tantenya Richard dan tante tersebut mengatakan klo ada tempat kost yang udah dipesan buat kami berempat. Aku, Ivanna, Grace dan Kafir berangkat ke tempat kost-kostan tersebut. Jaraknya kira2 satu km dari tempat tantenya si Richard. Sesampainya disana, aku agak terkagum. Gimana enggak, wong rumahnya bagus, berkeramik dan bersih. Terbayangkan olehku untuk segera mandi nantinya setelah memindahkan barang ketempat kost.
Oleh tantenya Richard, beliau memanggil-manggil si empunya rumah tempat kost tersebut. Lama dipangggil2 tak kunjung keluar. Akhirnya tante itu menanyakan si empunya rumah yang bernama bu mery*nb:sudah nikah tapi blon punya anak, orang cina tapi gagap gak karu-karuan* Oleh tetangga tersebut, dikatakan klo bu Mery pergi dengan suaminya keladang. Oleh sebab itu kami kembali kerumah tantenya Richard untuk menunggu si empunya rumah.
Selama menunggu di rumah tantenya Richard, kami disuguhi Singkong Gaul, teh Manis dan banyak deh. Pokoknya mereka baik banget. Akhirnya pada jam 7, si empunya rumah kost kami mengirim sms ke tantenya Richard dan mengatakan klo dia udah lagi perjalanan pulang.
Segera saja kami berangkat ke tempat kost tersebut dengan membawa barang2 kami naik becak. Namun kami hanya bertiga yaitu aku, Ivanna dan Grace, coz si Kafir ada rapat paripurna di lapangan *lupa lapangan apa namanya*. Sesampainya disana, kami nunggu sebentar, coz yang punya rumah blon nyampe. Setelah lima menit kemudian, datanglah kedua suami istri tersebut sambil membawa sebuah durian. Hmmmmm, pasti makan enak makan durian ini pikirku… Coz menurutku pasti mereka baik2 dan mau menawarkan durian tersebut kepada kami.
Kemudian si ibu pemilik rumah bergerak membukakan pintu disebelah kanan rumah itu. Dan setelah pintu terbuka kelihatan selasar lantai yang begitu jorok. Dan di dinding selasar tersebut bergelantungan kantong plastik berisi sampah yang sudah membusuk dan mengeluarkan aroma yang sangat tidak sedap. Dinding dimana sampah itu digantungkan menghitam, diakibatkan cairan yang keluar dari kantong plastik berisi sampah tersebut.
Sial!!! Masa kami harus tidur ditempat seperti ini? Pikirku… Terus sang empunya rumah menyilakan kami masuk dan melihat2 keadaan kamar yang akan kami tempati. Pertama kami masuk ke kamar ketiga di lantai bawah dan ternyata kondisinya sangat jorok. DI kamar tersebut banyak abu, sampah rokok, kartu buat main joker, ditambah kardus yang sudah jorok diatas lantai yang penuh debu. Namun si empunya rumah berjanji akan memberikan karpet sebagai alas tempat tidur si Grace dan si Ivanna.
Menurut si ibu pemilik rumah, katanya kamarnya udah disapu. Inikah yang namanya disapu? Trus tantenya Richard menenangkan kami, ya udah nanti disapu aja kamarnya baru ditempati dulu. Sekarang yang laki2 mau tidur dimana, soalnya dua kamar lagi yang terdapat dilantai bawah sudah ditempati. Jadi kau milih yang diatas aja, dan liat dulu kamarnya.
Segera kulangkahkan kaki ku ketangga menuju kamar lantai atas yang berjumlah dua kamar. Sesampainya dilantai atas, aku masuk ke kamar pertama yang lebih dekat dengan tangga dan berlantaikan papan. Di kamar pertama tersebut, kelihatan gelap sebab katanya tidak ada lampu disitu namun bisa dipasang nanti. Ukuran kamar ini juga kecil dan tidak ada ventilasi pada kamar tersebut. Kemudian aku bergegas kekamar berikutnya. Dikamar kedua tersebut ternyata luas kamarnya lebih besar dan ada ruang tambahan pada kamar tersebut. Namun kondisi kamar tersebut lebih parah dari kamar sebelumnya, karena lantainya penuh dengan puntung rokok, kartu, banyak lagi sampah-sampah lainnya. Kemudian pada ruang tambahan tersebut juga amat jorok. Ditambah lagi ventilasinya sudah rusak alias jendela ada yang bopong, sehingga nyamuk bisa masuk dengan bebas.
Dari pertimbangan tersebut, aku memilih kamar pertama yang belum memiliki lampu. Karena menurutku kamar tersebut lebih bersih dan si empunya rumah berjanji membuatkan lampu setelah kamarnya dibersihkan. Kemudian aku bergegas ke bawah mau mengambil sapu buat ngebersihin kamar, namun dicegat oleh suami yang memiliki rumah tersebut. Oleh si suami aku dilarang “pipis” di depan kamar tersebut, karena dulu sering anak kost tersebut pipis dengan sembarangan dan di tempat pipis tersebut terhubung langsung dengan ruangan makan mereka. Bah!!! Pantasan lah tercium bau pesing dari tadi pikirku. Segera aja ku iyakan untuk tidak pipis ditempat itu dan bergegas mencari sapu. Setelah sapunya dapat, aku segera masuk ke kamar yang kupilih(kamar yang tidak punya lampu) dan mulai menyapu tempat itu.
Sesampainya di sudut kamar, aku mencium bau amis dan adanya cairan-cairan yang tedapat pada pojok kamar. “Air kencing!!!!!” pikirku. Segera aku menuju lantai bawah dan memberi tahu si Ivanna Rica dan Grace tentang hal tersebut dan kepada si empunya rumah kukatakan aku jadinya memilih kamar yang disebelahnya.
Setelah aku selesai menyapu kamar tersebut, ternyata lantainya masih sangat berabu dan perlu di pel. Langsung kutanya si Ivanna Rica dimana kain pel disimpan namun kata mereka kain pel-nya udah hitam, bau dan berlendir….
Begh!!!!!!! Cobaan macam apa pula lagi yang kami hadapi ini? Sial, rutukku. Segera aku kekamar mandi untuk mencuci tangan akibat abu yang menempel di lengan ku. Sekalian juga cuci muka pikirku, coz dah gerah kali rasanya. Sesampainya dikamar mandi, aku kembali terkejut tidak alang kepalang. Mana gak terkejut, wong kamar mandinya super juooroook!!!!!! Bak kamar mandi tersebut sudah menguning, bau dan kelihatan tidak pernah dibersihkan. Kemudian kucoba menyalakan keran air, namun air tidak jalan. Bah!!! Yang seringnya mati air dimedan ini. *Sekedar informasi, kamar mandi tersebut dibagi menjadi dua dan dipisahkan oleh dinding namun tetap satu kamar mandi. Satu untuk anak kost dan sebelahnya buat mereka dan dimasing2 kamar mandi terdapat keran air* Tapi kok keran mereka bisa jalan ya? Kok punya kami gak bisa jalan? Bahhhh!!! Uda kena jatah air kami ini. Kurasa pun gak mandi aku hari Senin nanti klo mau KP.
Beghh!!!!!!!!!!!!!!!!!!
To be continue…..















Untung aja kita nggak jadi tinggal disitu, kalau nggk cari penyakit juga jadinya.
Tanya kenapa??
1. Bakal mandi nggk mandi, kata yang punya kosan air nya sering mati.
2. Lingkungan nya jorok, bayangin aja di tembok digantung 2 plastik besar sampah, puntung rokok dibuang sembarangan, wastafel karatan, 4 gelas di wastafel isinya udah jamuran iiiiiiiiiiii
3. Bakal malas pulang ke kosan (alias sering keluyuran) ujung ujungnya masuk angin juga negh……
Kalau tempat sekarang mah….enak, trus yang punya kosan juga baik
@Grace
Pas banget tuh akkang Grace… Mana betah tinggal ditempat seperti itu… Depan rumahnya bagus namun tempat kostnya busuk dan berjamur…. ato dengan kata lain Interface bagus, background processnya barlang…..
Aku paling jijik liat kecoa besar yang lalu lalang dengan enaknya di samping kita ketika kita nego tentang harga kamar dengan ibu kost kita itu…
Aku juga sangat jijik dengan empat gelas yang terletak di wastafel yang sudah menghitam…….. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii